Friday, March 29, 2019

hidroponik


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman hortikultura, diantaranya sayuran, memiliki peran dalam meningkatkan gizi masyarakat. Hal tersebut dikarenakan di dalam sayuran terdapat zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia, seperti misalnya sayuran daun hijau kaya akan vitamin A dan vitamin C; sayuran berwarna kuning, oranye, dan merah kaya akan karoten, vitamin A, dan vitamin C; sayuran sukulen kaya akan kandungan air; sayuran umbi kaya akan karbohidrat; dan sayuran biji kaya akan protein (Onate dan Eusebio, 1986).
Selada (Lactuca sativa L.) merupakan komoditas sayuran yang banyak mengandung zat-zat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat semakin meningkat, sehingga permintaan sayuran pun semakin meningkat. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementrian Perdagangan RI (2011) nilai ekspor sayuran pada tahun 2005 sebesar US$ 42 juta telah mengalami peningkatan pada tahun 2009 menjadi US$ 74.2 juta. Peningkatan permintaan ini menuntut adanya peningkatan produksi. Namun, kondisi alam dan luasan lahan produksi kadang menjadi kendala dalam kegiatan budidaya sayuran. Panjang hari di Indonesia yang cukup panjang dapat memaksimalkan penyinaran matahari untuk proses fotosintesis tanaman. Namun, di wilayah yang curah hujannya tinggi, kadang cuaca yang mendung sepanjang hari menjadi kendala dalam memaksimalkan proses fotosintesis. Permasalahan tersebut dapat disiasati dengan penerapan teknologi dalam budidaya sayuran seperti teknik hidroponik(Onate dan Eusebio, 1986).
Hidroponik merupakan teknik budidaya tanaman tanpa  menggunakan media tanah, melainkan menggunakan air sebagai media  tanamnya. Keuntungan hidroponik adalah: (a) tidak memerlukan lahan yang  luas (b) mudah dalam perawatan (c) memiliki nilai jual yang tinggi.  Sedangkan kelemahan hidroponik adalah: (a) memerlukan biaya yang mahal  (b) membutuhkan keterampilan yang khusus (Roidah, 2014). Jenis  hidroponik sangat beragam yaitu sistem irigasi tetes, sistem wick, sistem  Nutrient Film Tehnique (NFT). Jenis hidroponik y ang digunakan dalam  penelitian ini adalah sistem wick (Hendra, 2014). Hidroponik sistem wick sangat tepat digunakan bagi pemula yang  ingin bertanam dengan cara hidroponik, karena prinsipnya yang mendasar  hanya memanfaatkan kapilaritas air. Keunggulan lain nya adalah tidak  memerlukan perawatan khusus, mudah dalam merakit, portabel (dapat  dipindahkan), dan cocok di lahan terbatas (Nasaruddin dan Rosmawati. 2011). 
Tanpa disadari penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus berdampak tidak baik bagi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, hal ini menyebabkan kemampuan tanah mendukung ketersediaan hara dan kehidupan mikroorganisme dalam tanah menurun, oleh karena itu jika tidak segera diatasi maka dalam jangka waktu tidak terlalu lama lahan-lahan tersebut tidak mampu lagiberproduksi secara optimal dan berkelanjutan Penggunaan pupuk organik mampu menjadi solusi dalam mengurangi pemakaian pupuk anorganik yang berlebihan. Namun kelemahan pupuk organik pada umumnya adalah kandungan unsur hara yang rendah dan lambat tersedia bagi tanaman Melihat permasalahan di atas, dibutuhkan usaha maksimal untuk menggali dan memanfaatkan potensi bahan organik yang tersedia secara alami diantaranya dapat berupa pemanfaatan tanaman leguminoceae sebagai bentuk organik yang siap dan mampu berperan sebagai suplayer hara secara cepat dan tepat disamping perbaikan fisik dan biologi tanah Pupuk organik dapat berbentuk padat maupun cair. Kelebihan pupuk organik cair adalah unsur hara yang dikandungnya lebih cepat tersedia dan mudah diserap akar tanaman. Selain dengan cara disiramkan pupuk cair dapat digunakan langsung dengan cara disemprotkan pada daun atau batang tanaman. Bahan yang berpotensi  sebagai pupuk organic cair yaitu daun gamal (Pardosi, Iriato dan Mukhsin, 2014).

Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengruh pemberian pupuk organic cair (POC) gamal pada tanaman selada ( Green Romain) dengan sistem hidroponik.







TINJAUAN PUSTAKA
            Hidroponik  adalah  suatu  cara  bercocok  tanam  tanpa  menggunakan  tanahsebagai tempat menanam tanaman. Perbedaan bercocok tanam dengan tanah dan hidroponik  yaitu, apabila dengan tanah, zat-zat makanan diperoleh tanaman dari dalam  tanah.  Sedangkan  hidroponik, makanan  diperoleh  tanaman  dari  dalam  air yang mengandung zat-zat anorganik. (Mikrajuddin 2007).
Hidroponik merupakan cara bercocok tanam yang tidak menggunakan media tanah melainkan menggunakan larutannutrisi secara kontinu untuk kebutuhandari tanaman tersebut (Paishal,2005). Kelebihan dari sistemhidroponik yaitu perawatan lebih praktis dan membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja, pemakaian pupuk lebih effisien, tanaman dapat tumbuh lebih pesat dengankebersihan yang terjamin, serta harga jual sayuran hidroponik lebih mahal (Lingga, 2005). Kekurangan hidroponik yaitu Populasi tanaman tidakterlalu banyak sesuai dengan lahan yang di pakai, terlalu banyak menggunakan wadah, sering sekali di tumbuhi lumut–lumut dan membutuhkan biaya operasional yang besar (Paishal,2005).
Teknik hidroponik sistem sumbu (wick) merupakan teknik budidaya yang sederhana dibandingkan pada sistem lainnya. Sistem wick tidak harus memiliki peralatan yang rumit,hanya menggunakan sumbu sebagai perantara antara nutrisi dengan zona perakaran. Hidroponik sumbu, jika reservoir nutrisi habis,dapat diisi lagi secara manual (Lindawati,2015).
Kelebihan hidroponik sumbu adalah biaya pembuatan yang murah, mudah perawatan,tanaman tidak memerlukanpenyiraman yang terus menerus.Hidroponik sumbu biasanya di gunakan di dalam ruangan dengan media tanamyang ringan. Media tanam yang digunakan pada sistem hidroponik sumbuyaitu arangsekam, pasir, zeolit,rockwool, gambut (peat moss), dan serbuk serabut kelapa (Prihmantoro dan Indriani, 1999).
Tanaman selada diyakini berasal dari Timur Tengah. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman sayuran dan bahan baku obat-obatan pada abad ke 4 500 sebelum masehi. Tanaman ini sangat terkenal di Yunani dan Roma. Di Eropa Barat, selada jenis head telah dikenal sejak abad ke-14. Tanaman ini secara ilmiah memiliki nama Lactuca sativa L. (Grubben dan Sukprakarn, 1994). Adapun klasifikasi tanaman selada sebagai berikut:
Divisi                : Spermatophyta
Subdivisi           : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledoneae
Ordo                : Campanulales
Famili               : Compositae
Spesies Lactuca sativa L. (Nonnecke, 1989).
Benih selada akan berkecambah dalam kurun waktu empat hari, bahkan untuk benih yang viabel dapat berkecambah dalam waktu satu hari pada suhu 15-25 oC. Tanaman selada tumbuh dengan baik pada suhu harian 15-20 oC dan suhu malam 10 oC. Pembudidayaan selada di daerah tropis tumbuh dengan baik di dataran tinggi. Pada budidaya selada konvensional, tanah yang cocok untuk pertumbuhan selada yaitu jenis tanah dengan struktur yang bagus dan kesuburan tinggi dan kurang bagus pada tanah alkali berpasir-lempung. Tanaman selada ini tidak toleran tanah masam (pH < 6). Kebutuhan hara tanaman selada yaitu N 100 kg/ha, P2O5 100 kg/ha, K2O 80 kg/ha, dan pupuk organik 30 ton/ha.
Produktivitas selada jenis head di daerah tropis sebesar 5-10 ton/ha, sedangkan jenis leaf sebesar 3-8 ton/ha (Grubben dan Sukprakarn, 1994).
Selada sangat beragam jenisnya, merupakan tanaman herba tahunan atau dua musim, dan memiliki tinggi tanaman antara 30-70 cm. Susunan daun selada beragam tergantung kultivarnya, ada yang membentuk krop dan tidak membentuk krop. Tepi, ukuran, dan warna daun pun berbeda-beda tergantung kultivarnya. Kelompok kultivar selada cos atau selada romaine (L. sativa var longifoliaL. sativa var romana) memiliki krop yang lonjong dan daunya tegak. Beberapa kultivar yang termasuk kelompok ini yaitu: White Paris Cos, Paris Island, dan Valmaine (Splittstoesser, 1990; Grubben dan Sukprakarn, 1994).
Selada romaine  (Lactuca sativa var. romanaL. sativa var longifolia) termasuk kelompok kultivar cos lettuce. Selada jenis ini mempunyai krop yang lonjong dengan pertumbuhan yang meninggi cenderung mirip petsai. Tinggi selada ini bisa mencapai 25.40 cm. Daunnya lebih tegak dibandingkan daun selada yang umumnya menjuntai ke bawah. Daun terluarnya berwarna hijau gelap dan lembut, daun bagian dalam atau krop berwarna hijau keputihan. Jenis selada ini tergolong lambat pertumbuhannya (Splittstoesser, 1990; Haryanto et al., 2003).
Selada keriting, selada lollo rossa, dan selada romaine memiliki kandungan gizi yang sama. Kandungan gizi per 100 g selada keriting, selada lollo rossa, dan selada romaine yaitu: kalsium 68 mg, fosfor 25 mg, besi 1.4 mg, natrium 9 mg, kalium 264 mg, vitamin A 1900 IU, vitamin C 18 mg, tiamin 0.05 mg, riboflavin 0.08 mg, niasin 0.4 mg, asam askorbik 18 mg, air 94%, dan serat 0.7 g (Nonnecke, 1989; Ryder, 1997).
Tanaman gamal diperkirakan masuk  Indonesia pada tahun 900-an. Gliricidia  sepium merupakan  kelompok  tanaman  Leguminoseae  ataupolong-polongan tergolong   dalam   subfamili   Papilionaceae   yaitu  berbunga kupu-kupu.Tanaman  Leguminoseae adalah tanaman polong-polongan  dengan  sistem  perakaran  yang  mampu  bersimbiosis  dengan bakteri   Rhizobium   dan   membentuk   bintil   akar   yang   mempunyai kemampuan  mengikat  nitrogen  dari  udara.  Beberapa  daerah mengenal tanaman ini dengan nama lirik side atau gamal.
Gamal merupakan salah satu tanaman leguminosa dengan kandungan   unsur   hara   tinggi.   Gamal   yang   berumur   satu   tahun mengandung  3-6  %  N,  0,31%  P,  0,77%  K,  15-30  %  serat  kasar dan 10%  abu  K (Purwanto, 2007).
Pupuk cair organik adalah larutan hasil pembusukan sisa tanaman, kotoranhewan  dan  manusia  yang  memiliki  kandungan  unsur  hara  lebih  dari  satu (Suwahyono,  2014). Unsur  hara  yang  terkandung  dalam  pupuk  cair  organik lebih  mudah  diserap  oleh  tanah  dan  tanaman. Tanaman  mudah  menyerap unsur   hara   karena   unsur   hara   yang   ada   didalam   pupuk   cair   sudahterurai. Menurut  Masnamar  dalam  Siahaan  (2006)  selain  penyerapan  hara melalui  akar,  daun  juga  mampu  menyerap  unsur  hara  sehingga  pupuk  cair organik  tidak  diberikan  pada  akar  tanaman  saja  tapi  juga  di  atas  daun-daun tanaman
Menurut  Sari  (2015)  pupuk  cair  organik  memiliki  beberapa  manfaat, diantaranya adalah Meningkatkan  pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosa sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis dan penyerapan nitrogen tanaman, Meningkatkan   daya   tahan   tanaman   terhadap   hama   penyakit   dan kekeringan, Merangsang pertumbuhan cabang produktif,  Meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah juga Mengurangi gugurnya daun, bunga dan bakal buah.





BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:
1.        Benih Selada. Benih selada yang digunakan adalah Green Romain.
2.        Pupuk  Organik Cair. POC yang digunakan berbahan dasar daun gamal.
3.        Sterofoam. Digunakan sebagai wadah untuk meletakkan media tanam.
4.        Netpot. Digunakan sebagai penyangga tanaman hidroponik.
5.        Rockwool. Digunakan sebagai media tanam.
6.        Kain flanel. Digunakan sebagai sumbu untuk menyerap air dari sterofoam ke media tanam.
Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1.        TDS meter. Digunakan untuk mengetahui konsentrasi POC terlarut.
2.        Lilin. Digunakan untuk memanaskan kawat pelubang sterofoam.
3.        Korek api. Digunakan untuk menyalakan lilin.
4.        Kawat besi. Digunakan sebagai alat pelubang sterofoam.
5.        Gergaji Besi. Digunakan untuk memotong rockwool.
6.        Gunting. Digunakan untuk memotong kain flanel.
7.        Nampan. Digunakan sebagai tempat semai benih selada.
8.        Ember.Digunakan untuk mengambil air.
9.        Kantong plastik besar. Digunakan untuk menampung air pada sterofoam.
10.    Lakban. Digunakan untuk merekatkan  plastik penampung air pada sterofoam.
11.    Penggaris. Digunakan untuk mengukur tinggi tanaman dan lebar daun.
12.    Alat tulis. Digunakan untuk mencatat parameter yang diukur.
13.    Kamera. Digunakan sebagai alat untuk dokumentasi kegiatan praktikum.
Waktu dan Tempat
            Praktikum  ini dilaksanakan selama 2 (dua) bulan yaitu dari bulan April sampai Mei 2018. Bertempat di LaboratoriumAgroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

Pelaksanaan
            Persiapan bahan dan alat.Bahan utama yang perlu disiapkan adalah benih dan media semai serta perlengkapan lain yang digunakan untuk persemaian benih. Kemudian juga perlengkapan lain untuk pengolahan sumbu hidroponik, pelubangan sterofoam, serta POC dan pengukur konsentrasi pupuk dalam larutan juga disediakan.
            Persemaian.Persemaian dilakukan di dalam nampan dengan memberi sedikit air untuk membasahi media semai rockwool untuk proses imbibisi benih selada. Persemaian dilakukan selama 1 minggu sebelum dipindahkan ke media.
            Penanaman benih semaian ke media sterofoam.Penaman dilakukan setelah tanaman selada muda berjumlah daun empat. 6 tanaman terbaik dari persemaian dipindahkan ke lubang sterofoam hidroponik untuk kemudian dirawat dan diamati.
            Penambahan POC daun gamal ke larutan air.Sterofoam yang telah diisi dengan air ditambahkan POC daun gamal sebanyak 90 ml/L air. Setelah POC dilarutkan, larutan diukur konsentrasi menggunakan alat TDS meter.
Pengamatan
            Adapun pengamatan yang dilakukan yaitu pertumbuhan tanaman selada Green Romain. Pengamatan dilakukan setiap minggunya. Adapun faktor pertumbuhan tanaman selada yaitu :
1.             Tinggi tanaman (cm). diukur dari pangkal batang sampai ujung tanaman
selada.
2.             Jumlah daun (helai). Dihitung jumlah daun dari setiap tanaman selada.










HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
1.    Tinggi Tanaman
Minggu Ke-
Tanaman Ke-
Rata-Rata
1
2
3
4
5
6
1
3,6
2,7
4,5
3
3,5
2,6
3,3
2
5
3,5
5,9
4,2
5,9
4,5
4,8
3
5,7
5,8
5,7
7,5
6,6
7,8
6.5
4
5,9
5,5
6,4
10,2
9
10
7.8

2.    Lebar Daun
Minggu Ke-
Tanaman Ke-
Rata-Rata
1
2
3
4
5
6
1
1,2
1
1
1
1
0,4
0,9
2
1,3
1,2
1,5
1,6
1,5
1,5
1,4
3
1,8
2
1,5
2,8
2
2,5
2,1
4
2,1
2
2,1
4,2
3
3,6
2,8

3.    Jumlah Daun
Minggu Ke-
Tanaman Ke-
Rata-Rata
1
2
3
4
5
6
1
6
4
6
5
5
4
5
2
6
5
6
6
6
6
5,8
3
6
6
5
8
8
8
6,8
4
4
5
6
9
6
9
6,5


Pembahasan
            Berdasarkan table di atas, tinggi tanaman, lebar daun, dan jumlah daun dihitung minggu pertama setelah penyemaian pertumbuhan atau pertambahan  setiap sampel berbeda – beda karena setiap tanaman  kemampuan menyerap nutrisi berbeda-beda, penempatan media juga berpengaruh serta lingkungan sekitar.
            Pada minggu pertama rata – rata pertumbuhan tinggi tanaman 3,3 cm setiap sampel tanaman. Pada minggu kedua pertambahan tinggi tanaman rata-rata 4,8 setiap sampel, pada minggu ketiga rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman 6,5 cm pada setiap sampel tanaman, dan terakhir pada minggu ke empat rata-rata tinggi tanaman 7,8 cm pada setiap sampel.  Jadi dalam pengamatan tinggi tanaman dilihat dari table di atas dalam setiap minggu nya mengalami peningkatan tinggi tanaman sekurang kurangnya bertambah 1 cm pertanaman.
            Berdasarkan table diatas, lebar daun dalam pengamatan dapat dilihat pada minggu pertama lebar daun rata-rata 0,9 cm pertanaman, pada minggu kedua rata-rata lebar daun 1,4 cm, pada minggu ketiga rata-rata lebar daun 2,1 cm, sedangkan minggu ke empat rata-rata lebar daun 2,8 cm pertanaman sampel. Jadi dapat diliat peningkatan lebar daun setiap minggu nya kurang leih sebesar 0,5 – 0,7 cm perrminggunya.
            Parameter pengamatan terakhir yaitu jumlah daun, jumlah daun yang dihitung yaitu daun sempurna dalam artian sudah jelas terbuka, adapaun jumlah daun pada pengamtan minggu pertama rata-rata daun 5 helai, minggu kedua rata-rata 5,8 helai, minggu ketiga rata-rata 6,8 helai, sedangkan minggu keempat atau terakhir yaitu rata-rata 6,5. Jadi peningkatan jumlah daun dari minggu pertama hingga minggu ke empat bertambah setiap minggu nya kurang lebih 0,8 helai.
            Jadi pada ketiga parameter pengamatan berupa tinggi tanaman, lebar daun, dan jumlah daun dapat dibilang setiap minggunya mengalami kenaikan atau peningkatan, adapun faktor pendukung keberhasilan budidaya hidroponik berupa curah hujan, kelembapan, cahaya, serta temperature yang stabil untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman hidroponik tersebut.
Faktor penting dalam peningkatan baik perkembangan dan pertumbuhan tanaman selada yaitu unsur hara yang terpenuhi karena Pemberian larutan hara yang teratur sangatlah penting pada hidroponik, karena media hanya berfungsi sebagai penopang tanaman dan sarana meneruskan larutan atau air yang berlebihan.
            Hara tersedia bagi tanaman pada pH 5.5 – 7.5 tetapi yang terbaik adalah 6.5, karena pada kondisi ini unsur hara dalam keadaan tersedia bagi tanaman. Unsur hara makro dibutuhkan dalam jumlah besar dan konsentrasinya dalam larutan relatif tinggi. Termasuk unsur hara makro adalah N, P, K, Ca, Mg, dan S. Unsur hara mikro hanya diperlukan dalam konsentrasi yang rendah, yang meliputi unsur Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl. Kebutuhan tanaman akan unsur hara berbeda-beda menurut tingkat pertumbuhannya dan jenis tanaman (Jones, 1991).
Keberadaan Oksigen dalam sistem hidroponik sangat penting. Rendahnya oksigen menyebabkan permeabilitas membran sel menurun, sehingga dinding sel makin sukar untuk ditembus, Akibatnya tanaman akan kekurangan air. Kualitas air yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman secara hidroponik mempunyai tingkat salinitas yang tidak melebihi 2500 ppm, atau mempunyai nilai EC tidak lebih dari 6,0 mmhos/cm serta tidak mengandung logam-logam berat dalam jumlah besar karena dapat meracuni tanaman.
Pada penelitian ini air yang dicampur nutrisi pupuk cair gamal yaitu kisaran ppm 78 – 80, sangat rendah sekali, pada kondisi yang stabil kisaran 600- 800 ppm untuk budidaya selada, akan tetapi rendahnya kadar ppm yaitu 78 – 80 tanaman selada dapat tumbuh cukup baik.


DAFTAR PUSTAKA
Grubben, G. J. H. and S. Sukprakarn. 1994. Lactuca sativa L., p. 186-190. In J. S. Siemonsma and K. Piluek (Eds.). Plant Resourches of South-East Asia No 8 Vegetables. PROSEA. Bogor, Indonesia.

Haryanto, E., T. Suhartini, E. Rahayu, dan H. Sunarjono. 2003. Sawi dan Selada. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta. 112 hal.

Lindawati, Y. 2015. Pengaruh Lama Penyinaran Lampu LED dan Lampu Neon terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L) dengan Hidroponik Sistem Sumbu (Wick System). Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung.
Lingga, P. 2005. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta. 80 Hal.
Mikrajuddin, et.al.2007. IPA terpadu SMP dan Mts 3A.Jakarta : ESIS
Musnamar, E.I., 2004. Pupuk Organik Cair dan Padat. Pembuatan, Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nasaruddin dan Rosmawati. 2011.  Bididaya tanaman selada dengan hidroponik Makassar: Universitas Hasanuddin. Jurnal Agrisistem, Juni 2011, Vol. 7 No. 1 ISSN 1858-4330.
Nonnecke, Ib. L. 1989. Vegetable Production. Van Nostrand Reinhold. New York. 657 p.
Onate dan Eusebio, 1986. Pengaruh Berbagai Dosis dan Cara Aplikasi Pupuk Urea Terhadap Tanaman selada pada Tanah Inceptisol Marelan. Medan: Universitas Sumatera Utara. Jurnal Onaline Agroekoteknologi. Vol.2, No.2 :770 – 780, ISSN No. 2337- 6597.
Paishal, R. 2005. Pengaruh Greenhouse dan Pupuk Daun terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Seledri (Apium graveolens L) dengan Teknologi Hidroponik Sistem Terapung. Skripsi. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Pardosi, Iriato dan Mukhsin, 2014. Optimalisasi Pertumbuhan dan Produksi Tanaman selada secara Hidroponik dengan Pemberian berbagai Bahan Organik Cair. Makassar: Univeritas Hasanuddin. Jurnal Agrisistem, Agustus 2013, Vol. 6 No. 2 ISSN 1858-4330.

Prihmantoro, H dan Y. H. Indriani. 1999. Hidroponik Sayuran Semusim untuk Bisnis dan Hobi. Penebar Swadaya. Jakarta. 122 hal.
Purwanto, I. 2007. Mengenal Lebih Dekat Leguminoceae. Penebar Swadaya, Jakarta.
Ryder, E. J. 1997. Types of lettuce, p. 2-3. In R. M. Davis, K. V. Subbarao, R. N. Raid, and E. A. Kurtz (Eds.). Compendium of Lettuce Diseases. APS Press. Minnesota, USA.

Sari, S.Y. 2015. Pengaruh Volume Pupuk Organik Cair Berbahan Dasar Serabut Kelapa(Cocos nucifera) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Panen Sawi Hijau(Brassica juncea). Skripsi. Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Splittstoesser, W. E. 1990. Vegetable Growing Handbook: Organic and Traditional Methods. Third Edition. Van Nostrand Reinhold. New York. 362 p.

Suwahyono, Untung. 2014. Cara Cepat Buat Kompos dari Limbah. Penebar Swadaya. Jakarta Timur