PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Tanaman
hortikultura, diantaranya sayuran, memiliki peran dalam meningkatkan gizi
masyarakat. Hal tersebut dikarenakan di dalam sayuran terdapat zat-zat yang
bermanfaat bagi kesehatan manusia, seperti misalnya sayuran daun hijau kaya
akan vitamin A dan vitamin C; sayuran berwarna kuning, oranye, dan merah kaya
akan karoten, vitamin A, dan vitamin C; sayuran sukulen kaya akan kandungan
air; sayuran umbi kaya akan karbohidrat; dan sayuran biji kaya akan protein (Onate dan Eusebio, 1986).
Selada (Lactuca
sativa L.) merupakan komoditas sayuran yang banyak mengandung zat-zat
bermanfaat bagi kesehatan manusia. Kesadaran masyarakat terhadap pola hidup
sehat semakin meningkat, sehingga permintaan sayuran pun semakin meningkat.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementrian Perdagangan RI (2011) nilai
ekspor sayuran pada tahun 2005 sebesar US$ 42 juta telah mengalami peningkatan
pada tahun 2009 menjadi US$ 74.2 juta. Peningkatan permintaan ini menuntut
adanya peningkatan produksi. Namun, kondisi alam dan luasan lahan produksi
kadang menjadi kendala dalam kegiatan budidaya sayuran. Panjang hari di
Indonesia yang cukup panjang dapat memaksimalkan penyinaran matahari untuk
proses fotosintesis tanaman. Namun, di wilayah yang curah hujannya tinggi,
kadang cuaca yang mendung sepanjang hari menjadi kendala dalam memaksimalkan
proses fotosintesis. Permasalahan tersebut dapat disiasati dengan penerapan
teknologi dalam budidaya sayuran seperti teknik hidroponik(Onate dan Eusebio,
1986).
Hidroponik merupakan teknik budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah, melainkan
menggunakan air sebagai media tanamnya.
Keuntungan hidroponik adalah: (a) tidak memerlukan lahan yang luas (b) mudah dalam perawatan (c) memiliki
nilai jual yang tinggi. Sedangkan kelemahan
hidroponik adalah: (a) memerlukan biaya yang mahal (b) membutuhkan keterampilan yang khusus
(Roidah, 2014). Jenis hidroponik sangat
beragam yaitu sistem irigasi tetes, sistem wick, sistem Nutrient Film Tehnique (NFT). Jenis
hidroponik y ang digunakan dalam
penelitian ini adalah sistem wick (Hendra, 2014). Hidroponik sistem wick
sangat tepat digunakan bagi pemula yang
ingin bertanam dengan cara hidroponik, karena prinsipnya yang
mendasar hanya memanfaatkan kapilaritas
air. Keunggulan lain nya adalah tidak
memerlukan perawatan khusus, mudah dalam merakit, portabel (dapat dipindahkan), dan cocok di lahan terbatas
(Nasaruddin dan Rosmawati. 2011).
Tanpa disadari
penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus berdampak tidak baik bagi sifat
fisik, kimia, dan biologi tanah, hal ini menyebabkan kemampuan tanah mendukung
ketersediaan hara dan kehidupan mikroorganisme dalam tanah menurun, oleh karena
itu jika tidak segera diatasi maka dalam jangka waktu tidak terlalu lama
lahan-lahan tersebut tidak mampu lagiberproduksi secara optimal dan
berkelanjutan Penggunaan pupuk organik mampu menjadi solusi dalam mengurangi
pemakaian pupuk anorganik yang berlebihan. Namun kelemahan pupuk organik pada
umumnya adalah kandungan unsur hara yang rendah dan lambat tersedia bagi
tanaman Melihat permasalahan di atas, dibutuhkan usaha maksimal untuk menggali
dan memanfaatkan potensi bahan organik yang tersedia secara alami diantaranya
dapat berupa pemanfaatan tanaman leguminoceae sebagai bentuk organik
yang siap dan mampu berperan sebagai suplayer hara secara cepat dan tepat
disamping perbaikan fisik dan biologi tanah Pupuk organik dapat berbentuk padat
maupun cair. Kelebihan pupuk organik cair adalah unsur hara yang dikandungnya
lebih cepat tersedia dan mudah diserap akar tanaman. Selain dengan cara
disiramkan pupuk cair dapat digunakan langsung dengan cara disemprotkan pada
daun atau batang tanaman. Bahan yang berpotensi
sebagai pupuk organic cair yaitu daun gamal (Pardosi, Iriato dan
Mukhsin, 2014).
Tujuan
Tujuan
dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengruh pemberian pupuk organic cair
(POC) gamal pada tanaman selada ( Green Romain) dengan sistem hidroponik.
TINJAUAN
PUSTAKA
Hidroponik adalah
suatu cara bercocok
tanam tanpa menggunakan
tanahsebagai tempat menanam tanaman. Perbedaan bercocok tanam dengan
tanah dan hidroponik yaitu, apabila dengan
tanah, zat-zat makanan diperoleh tanaman dari dalam tanah.
Sedangkan hidroponik, makanan diperoleh
tanaman dari dalam
air yang mengandung zat-zat anorganik. (Mikrajuddin 2007).
Hidroponik
merupakan cara bercocok tanam yang tidak menggunakan media tanah melainkan menggunakan
larutannutrisi secara kontinu untuk kebutuhandari tanaman tersebut
(Paishal,2005). Kelebihan dari sistemhidroponik yaitu perawatan lebih praktis
dan membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja, pemakaian pupuk lebih effisien, tanaman
dapat tumbuh lebih pesat dengankebersihan yang terjamin, serta harga jual
sayuran hidroponik lebih mahal (Lingga, 2005). Kekurangan hidroponik yaitu Populasi
tanaman tidakterlalu banyak sesuai dengan lahan yang di pakai, terlalu banyak
menggunakan wadah, sering sekali di tumbuhi lumut–lumut dan membutuhkan biaya
operasional yang besar (Paishal,2005).
Teknik
hidroponik sistem sumbu (wick) merupakan teknik budidaya yang sederhana dibandingkan
pada sistem lainnya. Sistem wick tidak harus memiliki peralatan yang
rumit,hanya menggunakan sumbu sebagai perantara antara nutrisi dengan zona
perakaran. Hidroponik sumbu, jika reservoir nutrisi habis,dapat diisi lagi secara
manual (Lindawati,2015).
Kelebihan
hidroponik sumbu adalah biaya pembuatan yang murah, mudah perawatan,tanaman tidak
memerlukanpenyiraman yang terus menerus.Hidroponik sumbu biasanya di gunakan di
dalam ruangan dengan media tanamyang ringan. Media tanam yang digunakan pada
sistem hidroponik sumbuyaitu arangsekam, pasir, zeolit,rockwool, gambut (peat
moss), dan serbuk serabut kelapa (Prihmantoro dan Indriani, 1999).
Tanaman
selada diyakini berasal dari Timur Tengah. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman
sayuran dan bahan baku obat-obatan pada abad ke 4 500 sebelum masehi. Tanaman
ini sangat terkenal di Yunani dan Roma. Di Eropa Barat, selada jenis head telah
dikenal sejak abad ke-14. Tanaman ini secara ilmiah memiliki nama Lactuca
sativa L. (Grubben dan Sukprakarn, 1994). Adapun klasifikasi tanaman
selada sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Campanulales
Famili : Compositae
Spesies : Lactuca sativa L. (Nonnecke,
1989).
Benih
selada akan berkecambah dalam kurun waktu empat hari, bahkan untuk benih yang
viabel dapat berkecambah dalam waktu satu hari pada suhu 15-25 oC.
Tanaman selada tumbuh dengan baik pada suhu harian 15-20 oC dan suhu
malam 10 oC. Pembudidayaan selada di daerah tropis tumbuh dengan
baik di dataran tinggi. Pada budidaya selada konvensional, tanah yang cocok
untuk pertumbuhan selada yaitu jenis tanah dengan struktur yang bagus dan
kesuburan tinggi dan kurang bagus pada tanah alkali berpasir-lempung. Tanaman
selada ini tidak toleran tanah masam (pH < 6). Kebutuhan hara tanaman selada
yaitu N 100 kg/ha, P2O5 100 kg/ha, K2O 80 kg/ha, dan pupuk organik 30
ton/ha.
Produktivitas
selada jenis head di daerah tropis sebesar 5-10 ton/ha,
sedangkan jenis leaf sebesar 3-8 ton/ha (Grubben dan
Sukprakarn, 1994).
Selada sangat
beragam jenisnya, merupakan tanaman herba tahunan atau dua musim, dan memiliki
tinggi tanaman antara 30-70 cm. Susunan daun selada beragam tergantung
kultivarnya, ada yang membentuk krop dan tidak membentuk krop. Tepi, ukuran,
dan warna daun pun berbeda-beda tergantung kultivarnya. Kelompok kultivar
selada cos atau selada romaine (L. sativa var longifolia; L.
sativa var romana) memiliki krop yang lonjong dan daunya
tegak. Beberapa kultivar yang termasuk kelompok ini yaitu: White Paris Cos,
Paris Island, dan Valmaine (Splittstoesser,
1990; Grubben dan Sukprakarn, 1994).
Selada romaine
(Lactuca sativa var. romana; L.
sativa var longifolia) termasuk kelompok kultivar cos
lettuce. Selada jenis ini mempunyai krop yang lonjong dengan pertumbuhan
yang meninggi cenderung mirip petsai. Tinggi selada ini bisa mencapai 25.40 cm.
Daunnya lebih tegak dibandingkan daun selada yang umumnya menjuntai ke bawah.
Daun terluarnya berwarna hijau gelap dan lembut, daun bagian dalam atau krop
berwarna hijau keputihan. Jenis selada ini tergolong lambat pertumbuhannya
(Splittstoesser, 1990; Haryanto et al., 2003).
Selada keriting,
selada lollo rossa, dan selada romaine memiliki
kandungan gizi yang sama. Kandungan gizi per 100 g selada keriting,
selada lollo rossa, dan selada romaine yaitu:
kalsium 68 mg, fosfor 25 mg, besi 1.4 mg, natrium 9 mg, kalium 264 mg, vitamin
A 1900 IU, vitamin C 18 mg, tiamin 0.05 mg, riboflavin 0.08 mg, niasin 0.4 mg,
asam askorbik 18 mg, air 94%, dan serat 0.7 g (Nonnecke, 1989; Ryder, 1997).
Tanaman gamal
diperkirakan masuk Indonesia pada tahun
900-an. Gliricidia sepium merupakan kelompok
tanaman Leguminoseae ataupolong-polongan tergolong dalam
subfamili Papilionaceae yaitu
berbunga kupu-kupu.Tanaman
Leguminoseae adalah tanaman polong-polongan dengan
sistem perakaran yang
mampu bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium
dan membentuk bintil
akar yang mempunyai kemampuan mengikat
nitrogen dari udara.
Beberapa daerah mengenal tanaman
ini dengan nama lirik side atau gamal.
Gamal merupakan
salah satu tanaman leguminosa dengan kandungan
unsur hara tinggi.
Gamal yang berumur
satu tahun mengandung 3-6
% N, 0,31%
P, 0,77% K,
15-30 % serat
kasar dan 10% abu K (Purwanto, 2007).
Pupuk cair
organik adalah larutan hasil pembusukan sisa tanaman, kotoranhewan dan
manusia yang memiliki
kandungan unsur hara
lebih dari satu (Suwahyono, 2014). Unsur
hara yang terkandung
dalam pupuk cair
organik lebih mudah diserap
oleh tanah dan
tanaman. Tanaman mudah menyerap unsur hara
karena unsur hara
yang ada didalam
pupuk cair sudahterurai. Menurut Masnamar
dalam Siahaan (2006)
selain penyerapan hara melalui
akar, daun juga
mampu menyerap unsur
hara sehingga pupuk
cair organik tidak diberikan
pada akar tanaman
saja tapi juga
di atas daun-daun tanaman
Menurut Sari
(2015) pupuk cair
organik memiliki beberapa
manfaat, diantaranya adalah Meningkatkan
pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosa
sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis dan penyerapan nitrogen tanaman, Meningkatkan daya
tahan tanaman terhadap
hama penyakit dan kekeringan, Merangsang pertumbuhan
cabang produktif, Meningkatkan pembentukan
bunga dan bakal buah juga Mengurangi gugurnya daun, bunga dan bakal buah.
BAHAN
DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan
Bahan yang digunakan pada
praktikum ini adalah:
1.
Benih Selada. Benih selada
yang digunakan adalah Green Romain.
2.
Pupuk Organik Cair. POC yang digunakan berbahan dasar daun gamal.
3.
Sterofoam. Digunakan sebagai wadah untuk meletakkan media tanam.
4.
Netpot. Digunakan sebagai penyangga tanaman hidroponik.
5.
Rockwool. Digunakan sebagai media tanam.
6.
Kain flanel. Digunakan sebagai sumbu untuk menyerap air dari sterofoam ke media
tanam.
Alat
Alat yang digunakan dalam
praktikum ini adalah :
1.
TDS meter. Digunakan
untuk mengetahui konsentrasi POC terlarut.
2.
Lilin. Digunakan untuk memanaskan kawat pelubang sterofoam.
3.
Korek api. Digunakan untuk menyalakan lilin.
4.
Kawat besi. Digunakan sebagai alat pelubang sterofoam.
5.
Gergaji Besi. Digunakan untuk memotong rockwool.
6.
Gunting. Digunakan untuk memotong kain flanel.
7.
Nampan. Digunakan sebagai tempat semai benih selada.
8.
Ember.Digunakan untuk mengambil air.
9.
Kantong
plastik besar. Digunakan untuk menampung air
pada sterofoam.
10.
Lakban. Digunakan untuk merekatkan
plastik penampung air pada sterofoam.
11.
Penggaris. Digunakan untuk mengukur tinggi
tanaman dan lebar daun.
12.
Alat tulis.
Digunakan untuk mencatat parameter yang diukur.
13.
Kamera. Digunakan
sebagai alat untuk dokumentasi kegiatan praktikum.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan selama 2 (dua) bulan yaitu
dari bulan April sampai Mei 2018. Bertempat di LaboratoriumAgroekoteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Pelaksanaan
Persiapan
bahan dan alat.Bahan
utama yang perlu disiapkan adalah benih dan media semai serta perlengkapan lain
yang digunakan untuk persemaian benih. Kemudian juga perlengkapan lain untuk
pengolahan sumbu hidroponik, pelubangan sterofoam, serta POC dan pengukur
konsentrasi pupuk dalam larutan juga disediakan.
Persemaian.Persemaian dilakukan di dalam nampan
dengan memberi sedikit air untuk membasahi media semai rockwool untuk proses
imbibisi benih selada. Persemaian dilakukan selama 1 minggu sebelum dipindahkan
ke media.
Penanaman
benih semaian ke media sterofoam.Penaman dilakukan setelah tanaman
selada muda berjumlah daun empat. 6 tanaman terbaik dari persemaian dipindahkan
ke lubang sterofoam hidroponik untuk kemudian dirawat dan diamati.
Penambahan
POC daun gamal ke larutan air.Sterofoam
yang telah diisi dengan air ditambahkan POC daun gamal sebanyak 90 ml/L air.
Setelah POC dilarutkan, larutan diukur konsentrasi menggunakan alat TDS meter.
Pengamatan
Adapun pengamatan yang dilakukan yaitu pertumbuhan tanaman
selada Green Romain. Pengamatan
dilakukan setiap minggunya. Adapun faktor pertumbuhan tanaman selada yaitu :
1.
Tinggi tanaman (cm). diukur dari pangkal batang
sampai ujung tanaman
selada.
2.
Jumlah daun (helai). Dihitung jumlah daun dari
setiap tanaman selada.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
1.
Tinggi
Tanaman
|
Minggu Ke-
|
Tanaman Ke-
|
Rata-Rata
|
|||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
||
|
1
|
3,6
|
2,7
|
4,5
|
3
|
3,5
|
2,6
|
3,3
|
|
2
|
5
|
3,5
|
5,9
|
4,2
|
5,9
|
4,5
|
4,8
|
|
3
|
5,7
|
5,8
|
5,7
|
7,5
|
6,6
|
7,8
|
6.5
|
|
4
|
5,9
|
5,5
|
6,4
|
10,2
|
9
|
10
|
7.8
|
2.
Lebar
Daun
|
Minggu Ke-
|
Tanaman Ke-
|
Rata-Rata
|
|||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
||
|
1
|
1,2
|
1
|
1
|
1
|
1
|
0,4
|
0,9
|
|
2
|
1,3
|
1,2
|
1,5
|
1,6
|
1,5
|
1,5
|
1,4
|
|
3
|
1,8
|
2
|
1,5
|
2,8
|
2
|
2,5
|
2,1
|
|
4
|
2,1
|
2
|
2,1
|
4,2
|
3
|
3,6
|
2,8
|
3.
Jumlah
Daun
|
Minggu Ke-
|
Tanaman Ke-
|
Rata-Rata
|
|||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
||
|
1
|
6
|
4
|
6
|
5
|
5
|
4
|
5
|
|
2
|
6
|
5
|
6
|
6
|
6
|
6
|
5,8
|
|
3
|
6
|
6
|
5
|
8
|
8
|
8
|
6,8
|
|
4
|
4
|
5
|
6
|
9
|
6
|
9
|
6,5
|
Pembahasan
Berdasarkan table di atas, tinggi tanaman, lebar daun,
dan jumlah daun dihitung minggu pertama setelah penyemaian pertumbuhan atau
pertambahan setiap sampel berbeda – beda
karena setiap tanaman kemampuan menyerap
nutrisi berbeda-beda, penempatan media juga berpengaruh serta lingkungan
sekitar.
Pada minggu pertama rata – rata
pertumbuhan tinggi tanaman 3,3 cm setiap sampel tanaman. Pada minggu kedua
pertambahan tinggi tanaman rata-rata 4,8 setiap sampel, pada minggu ketiga
rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman 6,5 cm pada setiap sampel tanaman, dan
terakhir pada minggu ke empat rata-rata tinggi tanaman 7,8 cm pada setiap
sampel. Jadi dalam pengamatan tinggi
tanaman dilihat dari table di atas dalam setiap minggu nya mengalami
peningkatan tinggi tanaman sekurang kurangnya bertambah 1 cm pertanaman.
Berdasarkan table diatas, lebar daun
dalam pengamatan dapat dilihat pada minggu pertama lebar daun rata-rata 0,9 cm
pertanaman, pada minggu kedua rata-rata lebar daun 1,4 cm, pada minggu ketiga
rata-rata lebar daun 2,1 cm, sedangkan minggu ke empat rata-rata lebar daun 2,8
cm pertanaman sampel. Jadi dapat diliat peningkatan lebar daun setiap minggu
nya kurang leih sebesar 0,5 – 0,7 cm perrminggunya.
Parameter pengamatan terakhir yaitu
jumlah daun, jumlah daun yang dihitung yaitu daun sempurna dalam artian sudah
jelas terbuka, adapaun jumlah daun pada pengamtan minggu pertama rata-rata daun
5 helai, minggu kedua rata-rata 5,8 helai, minggu ketiga rata-rata 6,8 helai,
sedangkan minggu keempat atau terakhir yaitu rata-rata 6,5. Jadi peningkatan
jumlah daun dari minggu pertama hingga minggu ke empat bertambah setiap minggu
nya kurang lebih 0,8 helai.
Jadi pada ketiga parameter
pengamatan berupa tinggi tanaman, lebar daun, dan jumlah daun dapat dibilang
setiap minggunya mengalami kenaikan atau peningkatan, adapun faktor pendukung
keberhasilan budidaya hidroponik berupa curah hujan, kelembapan, cahaya, serta
temperature yang stabil untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman
hidroponik tersebut.
Faktor
penting dalam peningkatan baik perkembangan dan pertumbuhan tanaman selada
yaitu unsur hara yang terpenuhi karena Pemberian larutan hara yang teratur sangatlah penting pada
hidroponik, karena media hanya berfungsi sebagai penopang tanaman dan sarana
meneruskan larutan atau air yang berlebihan.
Hara tersedia bagi tanaman pada pH 5.5 – 7.5 tetapi yang terbaik
adalah 6.5, karena pada kondisi ini unsur hara dalam keadaan tersedia bagi
tanaman. Unsur hara makro dibutuhkan dalam jumlah besar dan konsentrasinya
dalam larutan relatif tinggi. Termasuk unsur hara makro adalah N, P, K, Ca, Mg,
dan S. Unsur hara mikro hanya diperlukan dalam konsentrasi yang rendah, yang
meliputi unsur Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl. Kebutuhan tanaman akan unsur hara
berbeda-beda menurut tingkat pertumbuhannya dan jenis tanaman (Jones, 1991).
Keberadaan Oksigen dalam sistem hidroponik sangat penting.
Rendahnya oksigen menyebabkan permeabilitas membran sel menurun, sehingga
dinding sel makin sukar untuk ditembus, Akibatnya tanaman akan kekurangan
air. Kualitas air yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman secara hidroponik
mempunyai tingkat salinitas yang tidak melebihi 2500 ppm, atau mempunyai nilai
EC tidak lebih dari 6,0 mmhos/cm serta tidak mengandung logam-logam berat dalam
jumlah besar karena dapat meracuni tanaman.
Pada penelitian ini air yang dicampur
nutrisi pupuk cair gamal yaitu kisaran ppm 78 – 80, sangat rendah sekali, pada
kondisi yang stabil kisaran 600- 800 ppm untuk budidaya selada, akan tetapi
rendahnya kadar ppm yaitu 78 – 80 tanaman selada dapat tumbuh cukup baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Grubben, G. J. H. and S. Sukprakarn. 1994. Lactuca
sativa L., p. 186-190. In J. S. Siemonsma and K.
Piluek (Eds.). Plant Resourches of South-East Asia No 8 Vegetables.
PROSEA. Bogor, Indonesia.
Haryanto, E., T. Suhartini, E. Rahayu, dan H. Sunarjono. 2003. Sawi dan Selada. Edisi Revisi. Penebar
Swadaya. Jakarta. 112 hal.
Lindawati,
Y. 2015. Pengaruh Lama Penyinaran Lampu LED dan Lampu Neon terhadap Pertumbuhan
dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L) dengan Hidroponik Sistem Sumbu (Wick
System). Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas
Lampung.
Lingga, P. 2005. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa
Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta. 80 Hal.
Mikrajuddin, et.al.2007. IPA terpadu SMP dan Mts
3A.Jakarta : ESIS
Musnamar, E.I., 2004. Pupuk Organik Cair dan Padat.
Pembuatan, Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nasaruddin dan Rosmawati. 2011. Bididaya
tanaman selada dengan hidroponik Makassar: Universitas Hasanuddin. Jurnal
Agrisistem, Juni 2011, Vol. 7 No. 1 ISSN 1858-4330.
Nonnecke, Ib. L. 1989. Vegetable
Production. Van Nostrand Reinhold. New York. 657 p.
Onate dan Eusebio, 1986. Pengaruh Berbagai Dosis dan Cara Aplikasi Pupuk Urea Terhadap Tanaman
selada pada Tanah Inceptisol Marelan. Medan: Universitas Sumatera Utara. Jurnal
Onaline Agroekoteknologi. Vol.2, No.2 :770 – 780, ISSN No. 2337- 6597.
Paishal, R. 2005. Pengaruh Greenhouse dan Pupuk Daun
terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Seledri (Apium graveolens L) dengan
Teknologi Hidroponik Sistem Terapung. Skripsi. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Pardosi,
Iriato dan Mukhsin, 2014. Optimalisasi
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman selada secara Hidroponik dengan Pemberian
berbagai Bahan Organik Cair. Makassar: Univeritas Hasanuddin. Jurnal
Agrisistem, Agustus 2013, Vol. 6 No. 2 ISSN 1858-4330.
Prihmantoro, H dan Y. H. Indriani. 1999. Hidroponik
Sayuran Semusim untuk Bisnis dan Hobi. Penebar Swadaya. Jakarta. 122 hal.
Purwanto, I. 2007. Mengenal Lebih Dekat
Leguminoceae. Penebar Swadaya, Jakarta.
Ryder, E. J. 1997. Types of
lettuce, p. 2-3. In R.
M. Davis, K. V. Subbarao, R. N. Raid, and E. A. Kurtz (Eds.).
Compendium of Lettuce Diseases. APS Press. Minnesota, USA.
Sari, S.Y. 2015. Pengaruh Volume Pupuk Organik Cair
Berbahan Dasar Serabut Kelapa(Cocos nucifera) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Panen Sawi Hijau(Brassica juncea). Skripsi. Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta.
Splittstoesser, W. E. 1990. Vegetable Growing Handbook: Organic
and Traditional Methods. Third Edition. Van Nostrand Reinhold. New York. 362 p.
Suwahyono, Untung. 2014. Cara Cepat Buat Kompos dari
Limbah. Penebar Swadaya. Jakarta Timur