Thursday, March 28, 2019

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PASCA PANEN


PENGEMBANGAN  TEKNOLOGI   PASCA  PANEN :

1.    Pendahuluan

Indonesia secara alamiah adalah negara pertanian dengan budaya pertanian yang kuat. Bertani, beternak, berburu ikan dilaut adalah keahlian turun-menurun yang sudah mendarah daging. Teknologi dasar ini sudah dikuasai sejak jaman nenek moyang. Karena budaya pertanian telah mendarah daging maka sebagai akibatnya, bahwa dengan usaha yang cukup minimal, sektor pertanian kita sebenarnya dapat dipacu untuk berproduksi sebesar-besarnya.
Gambar 1  Produksi pangan dunia

Eropa memiliki seperempat (24%) populasi dunia, tetapi menghasilkan hampir separuh (48%) jumlah total persediaan makanan, demikian juga Amerika Utara yang hanya memiliki 8% penduduk dunia, tetapi menghasilkan 20% persediaan makanan dunia. Sebaliknya Timur jauh, termasuk Indonesia yang memiliki 40% penduduk dunia hanya menyediakan 14% persediaan makanan dunia.
Salah satu masalah produksi tersebut di Indonesia adalah ketidak mampuan kita menyediakan “teknologi pasca panen”, yang mengakibatkan :
1.    Produk pertanian seperti buah-buahan cepat jenuh, sehingga harga mudah jatuh di musim panen, sehingga pengembangan nya secara intensif besar-besaran tidak dimungkinkan.
2.    Bargaining power petani sangat lemah menghadapi tengkulak, sehingga kehidupan, kesejahteraan dan “daya beli pada teknologi” akan selalu tetap lemah
3.    Kemampuan pengawetan, pengepakan, sehingga bisa menjadikan “produk kualitas ekspor” andalan masih sangat tergantung pada teknologi luar negeri, sehingga ketergantungan terhadap produk, uluran tangan dan teknologi akan terjadi selamanya
4.    Bila Indonesia menguasai, dan mampu mengembangkan teknologi “setara dengan teknologi dunia”, tidak mustahil produk pertanian bisa di maksimalkan menjadi komoditi ekspor andalan Indonesia, sehingga kemajuan teknologi bisa lainnya bisa berlangsung dan maju pesat.
Beberapa produk pertanian yang saat ini berhasil berkembang cukup berarti di Indonesia antara lain :
a.    Tepung, beras, ubi kayu, jagung, gandum
b.    Buah-buahan : jeruk, pisang, mangga, dll
c.    Sayur-sayuran: kubis, kentang
d.    Kacang-kacangan: kacang tanah, kedelai
e.    Ikan segar, udang, telur, susu, dairy produk
f.      Daging ayam, sapi, kerbau
g.    Makanan jadi, minuman
h.    Ternak, hasil peternakan, makanan ternak
Teknologi pasca panen untuk produk-produk di atas memang sebagian sudah tersedia di Indonesia, akan tetapi penguasaan pakar Indonesia terhadap manufaktur, riset dan pengembangan teknologi ini masih sangat lemah. Oleh sebab itu sulit bagi teknologi ini di Indonesia untuk bisa menjadi “tulang punggung” produk-produk pertanian, sehingga menjadi komoditi ekspor unggulan Indonesia.
Teknologi ini harus dikuasai, walaupun harus bertahap. Dengan pengembangan produk dari yang sederhana hingga produk yang kompleks, dari skala kecil hingga skala industri, dan dengan akumulasi langkah-langkah perbaikan berkesinambungan, yang melibatkan usaha multi-disiplin, teknologi ini akan menjadi teknologi yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar produk pertanian Indonesia, yang akan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan volume ekspor non-migas, dan sekaligus ikut berkontribusi cukup berarti dalam menyelesaikan persoalan pengangguran di Indonesia.

2.    Latar Belakang
Teknologi pasca panen adalah teknologi multidisiplin, yang melibatkan pakar-pakar, seperti pakar bahan, manufakturing, teknologi pengolahan pangan, kimia, pengukuran, gizi, agro-kompleks dan lingkungan.
Kelemahan pengembangan teknologi di Indonesia adalah sinergi antar disiplin ilmu yang masih sangat rendah. Sinergi adalah akumulasi usaha difusi dari berbagai ilmu dan teknologi, yang sangat membutuhkan energi, sehingga untuk mendapatkan produk yang canggih, modern dan berkehandalan tinggi perlu langkah dan tahapan sistematik, yang memerlukan dukungan politik dan dana pemerintah dan perguruan tinggi.
Keberpihakan pemerintah terhadap teknologi rakyat perlu ditegaskan, karena kuat sekali indikasi pemerintah yang lebih mengutamakan akumulasi kekuatan ekonomi pemerintah dan sektor swasta dari pada pemberdayaan teknologi produksi rakyat dan penyelesaian pengangguran, yang memang memerlukan usaha sedikit lebih serius dari pemerintah.
Teknologi pasca panen haruslah dibuktikan oleh UGM pada pemerintah sebagai teknologi pemberdayaan bagi kemampuan produktivitas rakyat, yang bisa mendorong ekspor pertanian rakyat sebagai sumber devisa negara, dan merupakan salah satu langkah strategis menyelesaikan pengangguran.
Oleh sebab itu di dalam metodologi pengembangannya perlu diperhatikan strategi implikasi kebutuhan dana, potensi pertanian rakyat, sustainability, potensi ekspor, potensi penyelesaian pengengguran, keterlibatan sektor swasta dan daya serap teknologi oleh rakyat.

3.    Metodologi
Metodologi pelaksanaan pengembangan teknologi pasca panen adalah sebagai berikut:
a.    pemilihan prioritas: jenis teknologi, skala teknologi
b.    perhitungan dampak terhadap: kebutuhan dana, potensi pertanian rakyat, sustainability, potensi ekspor, potensi penyelesaian pengengguran, keterlibatan sektor swasta dan daya serap teknologi oleh rakyat
c.    penjadwalan pengembangan teknologi
d.    pelaksanaan pengembangan teknologi
e.    Strategi implementasi teknologi.
4.    Pelaksanaan

Pengembangan teknologi pasca panen ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak.
a.    Pakar perguruan tinggi: sebagai penyedia teknologi & human resources
b.    Mitra industri (mungkin internal UGM): yang akan berpartisipasi dalam program produksi awal hingga produksi massa.
c.    Pemerintah daerah: akan menyediakan daerah sebagai pelaksanaan program implementasi, yang akan masuk dalam scheme anggaran Pemda dalam pelaksanaannya
5.    Pengusul

Sutrisno dan teman-teman Klaster Sains & Teknologi

(Untuk Ditanggapi oleh Para Peneliti di Klaster AGRO)









No comments:

Post a Comment